Senin, 17 Maret 2014

Download Buku Berbahasa Indonesia dengan Efektif untuk SMA/MA kelas 12

 

Download  Buku Berbahasa Indonesia dengan Efektif untuk SMA/MA kelas 12

 

 

Judul Buku: Berbahasa Indonesia dengan Efektif untuk Kelas XII Program Bahasa
Penulis : Erwan Juhara, Eriyandi Budiman, Rita Rochayati
Penyunting : Imam Condro Pamungkas, Nisri Nurhasanah A.
Pewajah Isi : Suryana Putra
Pewajah Ilustrasi : Antoni Yuwono
Pewajah Sampul : Ginanjar Rizki Perdana

 

 

Daftar Isi

 

Kata Sambutan

Kata Pengantar

Inilah Bagian Buku Ini

Daftar Isi

 

Bagian 1: Pelajaran Bahasa Indonesia

 

Pelajaran I Lingkungan 1

A. Mendengarkan dan Menanggapi Isi Berita

B. Membaca Intensif Paragraf Deduktif

C. Menulis Paragraf Persuasi

D. Menyampaikan Topik Uraian

E. Makna Konotatif dan Denotatif

Latihan Pemahaman Pelajaran I

 

Pelajaran 2 Keteladanan

A. Menyampaikan Intisari Buku Biograſ

B. Membaca Intensif Artikel

C. Menulis Paragraf Argumentasi

D. Paragraf Kohesif dan Koheren

Latihan Pemahaman Pelajaran 2

 

Pelajaran 3 Pendidikan

A. Mendengarkan dan Menanggapi Laporan

B. Menanggapi Isi Pembicaraan dalam Diskusi

C. Menulis Laporan Diskusi

D. Menulis Surat Lamaran Pekerjaan

E. Mengklasiſkasi Jenis Paragraf

Latihan Pemahaman Pelajaran 3

 

Latihan Semester 1

 

Pelajaran 4 Kegiatan

A. Membaca Teks Pidato

B. Menulis Paragraf Deduktif dan Induktif

C. Mengidentiſkasi dan Menyusun Jenis Kalimat Secara Pragmatik

D. Menggunakan Ragam Bahasa Indonesia

Latihan Pemahaman Pelajaran 4

 

Pelajaran 5 Kreativitas

A. Mendengarkan dan Menanggapi Program Kegiatan Sekolah

B. Berpidato Tanpa Teks

C. Menulis Makalah

D. Mengidentiſkasi Makna

Latihan Pemahaman Pelajaran 5

 

Pelajaran 6 Peristiwa

A. Mendengarkan dan Menanggapi Isi Uraian

B. Menyampaikan Program Kegiatan

C. Membaca Cepat

D. Menganalisis Wacana

E. Menulis Paragraf Contoh,  Perbandingan, dan Proses

Latihan Pemahaman Pelajaran 6

 

Latihan Semester 2

 

Bagian 2: Pelajaran Sastra Indonesia

 

Pelajaran 7 Apresiasi Sastra

A. Mendengarkan Pembacaan Puisi Terjemahan

B. Melisankan dan Mendiskusikan Gurindam XII

C. Membahas Ragam Cerpen Indonesia dan Terjemahan

D. Mengalihkan Aksara Arab

Latihan Pemahaman Pelajaran 7

 

Pelajaran 8 Apresiasi Karya Puisi

A. Mengidentiſkasi Puisi Terjemahan

B. Membandingkan Puisi Indonesia dan Puisi Terjemahan

C. Membahas Nuansa Makna dalam Lagu Pop Indonesia

Latihan Pemahaman Pelajaran 8

 

Pelajaran 9 Memahami Karya Sastra

A. Membaca dan Menanggapi Puisi

B. Mengalihkan Teks Aksara Arab Melayu ke Dalam Aksara Latin

C. Menulis Karya Cerpen untuk Majalah Dinding

Latihan Pemahaman Pelajaran 9

 

Latihan Semester 1

 

Pelajaran 10 Menelaah Sastra Prosa dan Puisi

A. Menganalisis Puisi Terjemahan

B. Membahas Ragam Cerpen Indonesia dan Terjemahan

C. Menelaah Komponen Kesastraan dalam Teks Drama

D. Menulis Kritik terhadap Cerpen

Latihan Pemahaman Pelajaran 10

 

Pelajaran 11 Apresiasi Cerpen

A. Membaca dan Menanggapi Puisi

B. Mendengarkan Pembacaan Cerpen Terjemahan

C. Menulis Esai Cerpen Indonesia

D. Menyusun Dialog Drama

Latihan Pemahaman Pelajaran 11

 

Pelajaran 12 Mengekspresikan Sastra

A. Membaca dan Menanggapi Drama

B. Menulis Kritik terhadap Drama

C. Mementaskan Drama Karya Sendiri

Latihan Pemahaman Pelajaran 12

 

Latihan Semester 2

Daftar Pustaka

Glosarium

Indeks

Kunci jawaban

 

Download  Buku Berbahasa Indonesia dengan Efektif

Bahasa Nasional Bahasa Indonesia

 

 

Jumat, 14 Maret 2014

Mengenal Ahli Bahasa


Mengenal Ahli Bahasa


Dr. Jusuf Syarif Badudu, mungkin lebih dikenal masyarakat luas dengan nama Yus Badudu, dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Jabatannya sekarang Dekan Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Bandung.

Yus Badudu dilahirkan untuk menjadi guru. Ia telah mengabdikan dirinya selama 38 tahun dalam bidang perguruan. Banyak buku mengenai bahasa Indonesia telah ditulisnya. Buku-buku tersebut adalah Kemampuan Bahasa Indonesia) untuk SLTA, 3 jilid (dkk.); Kesuma bunga rampai Arab-Melayu, 2 jilid (dkk.); Penunutun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP.), Rahasia Ungkapan); Sari Kesusastraan Indonesia, 2 jilid; Buku dan Pengarang, Mari Membina Bahasa Indonesia dengan Seragam; Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI); Pelik-pelik Bahasa Indonesia; Membina Bahasa Indonesia Baku seri 1 dan 2.

Mendeskripsikan Hal Menarik dari Buku Biografi

Mendeskripsikan Hal Menarik dari Buku Biografi


Kagum terhadap seorang tokoh dapat memotivasi anda untuk terus bersemangat untuk meraih cita-cita yang Anda inginkan. Dalam Pelajaran 1, Anda sudah belajar menyampaikan topik sebuah uraian. Sekarang, Anda akan mencoba untuk menyampaikan intisari dari sebuah buku biografi seorang tokoh. Intisari sebuah buku merupakan hal-hal paling penting dari keseluruhan isi buku.

Untuk mendapatkan intisari sebuah buku, Anda harus membacanya secara tuntas sehingga Anda tahu hal-hal penting dari sebuah buku. Misalnya, akan menunjukkan hal-hal yang paling menarik atau mengagumkan dari kehi dupan tokoh dalam buku tersebut. Dengan demikian, Anda akan dapat menceritakannya kepada teman, baik sebagai bahan pem bicaraan biasa maupun sebagai bahan pembicaraan yang berisi/bermutu. Saat menyampaikan cerita pun tidak akan berbelit-belit karena Anda sudah tahu intisari buku biografi yang akan dibicarakan.

Sebagai contoh, bacalah intisari buku biografi K.H. Zainuddin M.Z. berikut.

Perjalanan Hidup Zainuddin M.Z.

Nama lengkapnya Zainuddin Hamidy Turmudzi. Nama kecilnya Zainuddin. Nama panggilan keluarga adalah Udin. Sebutan yang diberikan masyarakat kepadanya, "Tukang Dongeng Muda", "Dai Berjuta Umat", dan "Tokoh Agama Islam Nasional yang Menjadi Anutan".
 
Ia mendapat pengakuan dari umatnya sebagai seorang kiai dan ustad. Oleh umatnya, ia dipanggil akrab dengan sebutan Pak Kiai atau Pak Ustad. Nama populernya yakni Kiai Haji Zainuddin M.Z. Kata M.Z. diambil dari Turmudzi, ayahnya.

Zainuddin berasal dari keluarga Betawi asli. Tepatnya dari kawasan becek di Gang Cemara, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia lahir dari pasangan Turmudzi dan Zainabun. Ketika menikah, ayah nya berusia 18 tahun dan ibunya berumur 13 tahun. Kakek dan nenek dari pihak ibunya ber nama Sa'umin dan Sa'nim.

Zainuddin tidak banyak menikmati masamasa kecilnya. Kehidupannya, tidak seperti anak-anak sekarang. Sekali pun nakal, sebagai anak pertama, Zainuddin bertanggung jawab meringankan beban ibunya. Misalnya, ia membantu mencuci.

Saat Zainuddin baru duduk di bangku kelas satu di SD Kramat Pela. Dari rumahnya, Zainuddin harus berjalan kaki ke sekolahnya yang berjarak sekitar dua kilometer. Ia pergi ke sekolah tanpa alas sepatu, tetapi dengan sandal jepit, dan ia menenteng sabak (batu tulis), buku tempo dulu.

Sepulang sekolah, ia harus menjajakan koran yang sudah dibawanya pada saat berangkat sekolah. Kadang, hatinya menjerit ketika ia melihat teman sebayanya naik motor atau mobil. "Mengapa aku tidak ditakdirkan seperti anak itu. Apa beratnya jika Allah menjadikan aku seperti anak itu?" protesnya.

Namun demikian, ia tetap tekun belajar. Ia tidak mengenal tidak naik kelas. Lancar terus. Bahkan waktu SD, ia pernah loncat kelas. Seharusnya naik ke kelas tiga, oleh gurunya disuruh naik ke kelas lima. Prestasi ini tidak membuat Zainuddin naik gengsi atau sombong. Malah ia bersyukur

Sumber: Sampul Dakwah & Politik "Dai Berjuta Umat",1997


Karena ekonomi keluarganya tidak pernah berkembang dan malah sering kempes maka sambil belajar di SD, ia tidak malu menjajakan koran keliling kota. Jika di rumah ia membantu pamannya menunggui kios rokok.

Saat di ambang pintu lulusan SD, pada 1964, ia bingung mau meneruskan ke sekolah mana. Guru-gurunya menyarankan, agar ia masuk SMP karena punya bakat sastra. Saran itu sangat mustahil dipenuhi, sebab ia menyadari orangtuanya tidak punya biaya. Padahal, ia sudah bertekad ingin menjadi pilot atau dokter.

"Kayaknya gagah begitu," aku Zainuddin.

Sekali pun mustahil, ia menyampaikan saran guru itu kepada kakeknya. "Buat apa masuk SMP?" tolak kakeknya. "Liat encing lu (paman) yang lulus SMA, ijazahnya kagak laku. Gua kapok masukin anak ke SMP atau SMA. Gua tanam "pohon kelapa" yang bagus, tapi nyatanya kagak berbuah." Mendengar penolakan kakeknya, Zainuddin diam.

Setamat SD, ia 'dipaksa' masuk Madrasah Ibtidaiyah Manarul Islam, dan harus duduk di kelas lima. Ini langkah mundur baginya. Walau bagaimanapun, realitas ini harus diterima walau tidak menyenangkan. Zainuddin merasa kaget karena pelajarannya berbeda dengan di SD. Selama di SD, ia tidak pernah memegang buku pelajaran agama berbahasa Arab, tetapi di madrasah tersebut ia harus menggeluti hampir 70% pelajaran agama.

Di madrasah, Zainuddin mendapat perhatian dan dipanggil guru-gurunya karena sering menjahili teman-temannya. Karena sering dinasihati, hatinya luluh dan menangis. Ia me nya dari kebandelannya. Diam-diam salah se-orang guru menawarinya pindah ke Madrasah Tsanawiyah (MTs). "Pokoknya kamu harus di sana dan ikut tes," tekan gurunya. Bersama Tutty Alawiyah dan Suryani Taher yang kini menggeluti profesi sebagai juru dakwah, ia ikut ujian masuk MTs Darul Ma'arif, Cipete, Jakarta Selatan. Ternyata hanya Zainuddin yang diterima di kelas dua pada madrasah milik K.H. Idham Chalid tersebut, dan lainnya di kelas satu. Namun, "Biarlah Pak, saya masuk kelas satu saja. Saya tidak enak dengan teman-teman," tolaknya halus.

Selama kurang lebih enam bulan, Zainuddin masih mondar-mandir dari rumah ke madrasah. Ia belum berkeinginan menetap di asrama (pondok) yang memang disediakan, seperti teman-teman lainnya. Baru setelah peraturan madrasah semakin ketat, ia bersedia menetap di asrama. Secara formal, Zainuddin tidak pernah mengecap dunia pesantren. Namun, ia tinggal di asrama yang berfungsi sebagai pondok pesantren. Kehidupan pesantren dapat dihayatinya.

Di asrama, Zainuddin sangat mudah berinteraksi dengan teman-temannya. Dapat konsentrasi membaca kitab kuning, mengaji Al-quran, dan menelaah buku pelajaran yang diwajibkan. Ia juga sering mengembangkan pikirannya dengan menikmati buku-buku sastra yang memang disenangi sejak SD. Misalnya, bukubuku roman Buya Hamka, Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Merantau ke Deli, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Alfu Laylah wa Laylah (Kisah Cinta 1001 malam), dan buku silat Khoo Ping Ho. Bahkan, saking senangnya cerita, ia menjadi pendengar setia cerita Zaid yang dipancarkan oleh radio swasta di Jakarta. Cerita buku-buku tersebut disam paikan kembali kepada teman-temannya sehingga ia dijuluki "Tukang Dongeng Muda".

Selulus MTs Darul Ma'arif, Zainuddin tidak pusing-pusing memilih sekolah. Ia tinggal melan jutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan berada di lingkungan lembaga pendidikan Darul Ma'arif, yaitu Madrasah Aliyah Darul Ma'arif. Saat itu, ia bercita-cita melanglang ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Karena biayanya tidak terjangkau, ia merelakan diri untuk tidak pergi ke per guruan tinggi Islam bergengsi itu,

Bakatnya berpidato muncul ketika di MTs-MA Darul Ma'arif. Di lembaga pendidikan ini, Zainuddin belajar pidato dalam forum Talimul Muhadharah (belajar pidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng tersalurkan dan berkembang dalam acara tersebut. Buku-buku sastra yang dibacanya diungkapkan kembali dalam acara itu. Ia menjadikan acara itu sebagai ajang latihan pidato dan pendidikan mental, agar tidak grogi berdiri di hadapan banyak orang.

Setiap kali tampil, ia memukau temantemannya. Gemuruh tepuk tangan dan acungan jempol menyertai akhir pidatonya. "Walaupun begitu, saya belum terpikir akan ke arah itu sebagai jalan hidup saya," paparnya

Sumber: Buku Dakwah & Politik "Dai Berjuta Umat",1997

Zainuddin mengakui bahwa ia belajar pidato dengan mencontoh gaya pidato K.H. Syukron Ma'mun (kini pemimpin dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, Jakarta). Kiai inilah yang pertama kali mem bimbing Zainuddin dalam berpidato. "Menurut saya, gaya K.H. Syukron Ma'mun dalam ber pidato enak dan gampang dimengerti pen dengar," jelasnya.

Ia juga belajar gaya pidato Buya Hamka (ketua umum MUI), K.H. Idham Chalid (pimpinan NU) dan Ir. Soekarno (presiden RI pertama). Ia membaca buku-buku yang ditulis para tokoh ini dan mendengarkan pidatopidatonya. Dari Buya Hamka, ia mempelajari gaya bahasa karya-karyanya dan cara menyampaikan sesuatu dari hati nurani. Dari Bung Karno, ia mengagumi dan meniru gaya pidatonya sebagai orator yang berapi-api dan dari Idham Chalid, ia mengagumi gaya pidatonya yang sering menggunakan logika berpikir. Ia sadar, tokoh-tokoh itu hanya lahir sekali. Begitu juga Zainuddin. Ia tentu tidak ingin menjadi tokoh-tokoh pendahulunya. "Zainuddin harus menjadi Zainuddin yang lahir hanya sekali karena masing-masing tokoh punya ciri dan khas sendiri-sendiri," tekadnya.

Pada usia 17 tahun, ketika duduk di kelas dua madrasah aliyah, Zainuddin mendapat tugas sekolah untuk mengisi pengajian di sekitar daerah Cipete dan Cilandak. Ia tidak menyangka kalau pidatonya dapat menyentuh hati masyarakat. Padahal, setiap tampil berpidato, ia tidak membuat persiapan serius. Baginya, yang penting dapat berbicara dan sedikit mampu mem buat pendengar tertawa. Soal materi nomor dua. Dari sinilah bakat dan langkah Zainuddin dalam berpidato mulai dikenal masyarakat. Ia pun sering diundang berdakwah di kampung-kampung.

Untuk mengembangkan bakat dan menerus kan langkah dakwahnya, Zainuddin berkesempatan ikut kursus dakwah yang diselenggarakan oleh Youth Islamic Study Club (YISC) di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Ia juga pernah ikut training dai di Cisarua yang diadakan oleh Missi Islam Indonesia. Di latihan dai inilah, ia mengenal tokoh-tokoh penting dari kalangan NU. Misalnya, Subchan Z.E. (almar hum), Idham Chalid, dan Achmad Sjaichu. "Ketiga tokoh ini memberi wawasan keilmuan buat saya," akunya bangga. Ia juga menimba ilmu dari K.H. Naim, K.H. Ishak Darwis Jambek, Muhsin Musad, Bayumin, dan Muhammad Yusuf. Sekitar tahun 1975, dakwah Zainuddin semakin memperoleh tempat di hati masyarakat Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Ia kian cinta dengan urusan dakwah dan kuliah nya mulai terbengkalai. Zainuddin menyadari, dakwah adalah jalan hidup yang harus dikem bangkan dan ditangani secara profesional.

Undangan berdakwah berdatangan dan itu memberi peluang bagi Zainuddin untuk masuk ke deretan dai-dai di Jabotabek.

Pintu rekaman kaset dakwah pun terbuka. Virgo Record mengajaknya mendokumentasikan suara dakwahnya ke dalam kaset. Ajakan itu tidak pernah dinyana sebelumnya, dan ia bersyukur karena niat naik haji bersama istrinya bisa terkabul. Honor rekaman itu dijadikan bekal berhaji.

Ternyata, rekaman kaset itu sangat bermakna besar dalam perjalanan dakwahnya. Suara dak wahnya mampu menembus ke berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan beberapa negara Asia. Permintaan dakwah pun kian mengalir.

Sukses rekaman kaset pertama, Virgo Record mengontraknya kembali lima album. Kaset-kaset ini kemudian diminta oleh Angel Record Singapura. Tujuh album rekaman berada di pasaran Asia. Permintaan rekaman kaset dakwah juga datang dari Naviri Record, dan ia dikontrak selama tiga tahun. Namanya kian kondang karena dibantu oleh radio-radio swasta yang meng udarakan rekaman kaset dakwahnya setiap hari.

Nah, sejak saat itulah dakwah Zainuddin melintas ke segala sektor kelompok dan golongan. Lalu, jadwal dakwahnya semakin padat. Berkat permintaan berdakwah semakin membludak, ia membentuk koordinator pusat dan daerah yang mengatur seluruh kegiatan dakwah nya. "Biar tidak ada daerah yang kering dakwah," kata Zainuddin memberi alasan. Langkah ini memang mem permudah cara kerja dan meringankan beban atau biaya bagi umat. Ia tidak mau, hari ini terbang ke barat, besok terbang ke timur. "Tidak efektif. Buang waktu dan tenaga," katanya. Ia lebih suka sistem paket.

Sebagai gambaran, misalnya, dalam acara Isra' Miraj, ia harus berdakwah di 120 tempat, mulai dari Jakarta hingga Ternate. Jika daerah dakwahnya tidak terjangkau oleh kendaraan darat, Zainuddin disediakan helikopter oleh pihak penyelenggara. "Itu bukan permintaan saya." katanya. Dalam sehari, ia mampu berdakwah empat sampai enam kali dalam satu tempat. Tapi, ia tidak pernah kering materi. Berkat dakwahnya semakin laku keras dan ribuan umat berdesak-desakan menghadiri dakwahnya, Majalah Berita Mingguan Tempo pernah menjadikannya sebagai cover story dengan judul "Da'i Berjuta Umat". Julukan ini terus melekat pada dirinya hingga kini.

 
Sumber: Buku Dakwah & Politik "Dai Berjuta Umat", 1997


Setelah menyimak intisari buku tentang K.H. Zainuddin M.Z., catatlah hal-hal yang menarik atau mengagumkan dari kehidupan tokoh.

Berikut ini contohnya.
1. Sekali pun nakal, saat masih kecil, Zainuddin bertanggung jawab meringankan beban orangtuanya. Misalnya, ia membantu mencuci pakaian.
2. Ia selalu tekun belajar dan tidak mengenal tidak naik kelas. Bahkan, waktu SD, ia pernah loncat kelas. Prestasi ini tidak membuatnya naik gengsi atau sombong. Ia malah bersyukur.

Selanjutnya, Anda dapat mencatat hal-hal menarik atau mengagumkan lainnya dari kehidupan K.H. Zainuddin M.Z.

Selanjutnya, sampaikanlah hal-hal yang menarik atau mengagumkan tentang tokoh tersebut kepada teman dengan kalimat-kalimat sendiri secara lugas. Anda sudah mencatatnya, bukan? Jadi, Anda tinggal menyampaikannya secara lisan.

Lakukanlah secara bergiliran. Berikut ini contoh menyampaikannya.

Saya sangat kagum dengan kehidupan tokoh K.H. Zainuddin M.Z. Sejak kecil, walaupun nakal, Zainuddin tetap bertanggung jawab meringankan beban orangtuanya. Misalnya, ia membantu mencuci pakaian. Ia pun selalu tekun belajar dan selalu naik kelas. Bahkan, waktu SD, ia pernah loncat kelas. Prestasi ini tidak membuatnya naik gengsi atau sombong. Ia malah bersyukur.

Saat menyimak penyampaian dari teman, tentu ada hal-hal yang ingin dikomentari. Perhatikanlah contoh komentarnya.
1. Saya terkesan dengan penyampaian Santi, selain terstruktur juga tidak berbelit-belit saat menyampaikannya. Pokoknya, saya salut dengan cara penyampaiannya.
2. Isi penyampaianmu cukup baik, tetapi terkadang kamu tidak memerhatikan intonasi. Akhirnya, penyampaian menjadi kurang baik. Demikian komentar saya, terima kasih.

Facebook Comments